Protecal Ladies, penyakit tulang osteoporosis memang bisa dialami oleh siapa saja. Namun, beberapa orang di usia lanjut memiliki risiko lebih tinggi dan lebih cepat mengalami gangguan kepadatan tulang ini dibandingkan dengan mereka yang masih muda. Umumnya, osteoporosis ditandai dengan penurunan kualitas jaringan tulang yang menyebabkan berkurangnya massa tulang sehingga memicu tulang rapuh.

Selain diakibatkan karena kurang asupan kalsium, osteoporosis juga bisa muncul akibat 6 kebiasaan buruk yang tidak Anda sadari berikut ini.

 

Makan makanan asin secara berlebihan

Siapa sangka jika asupan garam berpengaruh besar terhadap risiko penurunan kepadatan tulang? Menurut dr. Frederick Singer, spesialis tulang dari Providence Saint John’s Health Center, Amerika Serikat, saat mengkonsumsi makanan asin secara berlebihan, maka natrium dalam darah meningkat sehingga tubuh melepaskan lebih banyak kalsium melalui urine. Dengan begitu, kebutuhan kalsium tulang tidak dapat dipenuhi secara optimal dan memicu risiko osteoporosis.

 

Kurang beraktivitas di luar ruangan

Setiap harinya selama 8 – 9 jam Anda banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di dalam ruangan. Demikian pula ketika akhir pekan, Anda lebih memilih untuk beristirahat di rumah dibanding beraktivitas di luar ruangan. Padahal kebiasaan ini jika dibiarkan akan membuat tubuh kekurangan asupan vitamin D yang didapat dari sinar matahari. Perlu diketahui, vitamin D inilah yang membantu penyerapan kalsium dalam tulang sehingga wajib diperhatikan kadar pemenuhannya.

 

Diet protein

Belakangan tren diet protein kian populer terlebih bagi pria dan wanita yang ingin meningkatkan pembentukan massa otot. Sayangnya, diet protein justru akan membuat ginjal mengeluarkan lebih banyak kalsium melalui urine. Padahal kekurangan kalsium dalam tulang dapat mengakibatkan osteoporosis yang membuat tulang rapuh dan kehilangan kepadatannya.

 

Minum minuman bersoda dan beralkohol

Protecal ladies, minuman bersoda dan beralkohol jika dikonsumsi secara berlebihan akan menghambat penyerapan kalsium dalam tulang. Hal ini dikarenakan kandungan soda dan alkohol dapat mengurangi fungsi pankreas dan hati. Jika kondisi memburuk, maka minuman bersoda dan beralkohol juga mampu meningkatkan hormon kortisol dan menurunkan estrogen dan testosteron yang membuat tulang semakin rapuh.

 

Terlalu lama duduk di lantai

Orang yang menghabiskan waktu terlalu lama duduk di lantai ternyata berisiko tinggi terserang osteoporosis. Pasalnya, saat duduk di lantai sendi kaki sering kali tertekan dan menyebabkan beban tumpuan beralih pada tulang. Jika dilakukan dalam jangka panjang, maka tulang kaki menjadi lebih mudah kehilangan kepadatannya. Untuk itu, cobalah untuk duduk dengan posisi yang baik dan benar di atas kursi.

 

Merokok

Selain berbahaya untuk jantung dan paru-paru, rokok juga berdampak buruk bagi kesehatan tulang Anda. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh National Institute of Health Osteoporosis and Related Bone Diseases National Resource Center, perokok aktif memiliki kepadatan tulang jauh lebih rendah sehingga berisiko mengidap osteoporosis. Hal ini dipicu oleh radikal bebas yang dihasilkan oleh asap rokok yang meningkatkan produksi hormon kortisol di mana hormon ini justru melemahkan kepadatan tulang.

 

Untuk memenuhi asupan kalsium dalam tubuh, Anda bisa berinvestasi kalsium sejak dini dengan rutin mengkonsumsi Protecal Solid agar tulang lebih kuat kini dan nanti. Dikemas dalam wadah tube ataupun strip membuat Protecal Solid praktis dibawa bepergian ke mana saja dan kapan saja. Dengan begitu tak perlu lagi khawatir kekurangan asupan kalsium karena Protecal Solid aman dikonsumsi secara rutin.

tips
07/12/2018

Tumbuh kembang anak tidak hanya bisa diukur dari kecerdasan motoriknya, tetapi juga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah kondisi tulang. Sayangnya, hal ini cenderung diabaikan karena sifat penyakitnya yang bisa saja “tidak terlihat” jika dibandingkan dengan jenis penyakit lain seperti flu atau demam. Padahal ada sejumlah risiko penyakit tulang pada anak yang perlu Anda waspadai. Berikut penjelasannya.

 

Lordosis dan skoliosis

Risiko penyakit tulang lordosis dan skoliosis lebih rentan terjadi pada anak yang sering memanggul tas dengan beban terlalu berat. Lordosis adalah kondisi di mana tulang melengkung ke belakang, sedangkan scoliosis terjadi ketika tulang melengkung ke samping.

Di lansir dari era.id, penelitian yang dilakukan American Academy of Orthopedic menunjukkan bahwa anak-anak usia 11-13 tahun paling rentan mengalami gangguan tulang punggung. Idealnya, beban yang boleh dipikul seorang anak adalah 10%-15% dari total bobot tubuhnya. Misalnya, jika anak Anda memiliki bobot 35 kg, maka ia hanya boleh memikul beban sebesar 3,5-5,25 kg.

Saat anak memanggul tas punggung dengan beban terlalu berat, tubuh anak akan tertarik ke belakang. Demi menyeimbangkan hal tersebut, biasanya anak akan melengkungkan punggung atau membungkukkan badannya. Kondisi inilah yang bisa berpotensi mengganggu pertumbuhan tulang belakang hingga menimbulkan nyeri punggung, leher, atau bahu.

 

Kaki Bengkok

Kondisi kaki bengkok berbentuk O atau X sebetulnya merupakan hal yang wajar terjadi. Untuk kondisi kaki O, biasanya terjadi pada anak usia di bawah dua tahun. Hal ini normal karena merupakan salah satu proses dari perkembangan tulangnya. Memasuki usia delapan belas bulan, sudut lutut biasanya memuncak dan akan kembali ke bentuk normal secara bertahap seiring dengan pertumbuhan anak.

Sama seperti kaki O, kaki X juga merupakan kondisi yang biasanya dialami beberapa anak sebagai salah satu proses pertumbuhan. Seiring anak yang semakin besar, kondisi kakinya akan kembali normal dengan sendirinya. Anda perlu waspada apabila kondisi kaki O atau kaki X ini tidak berubah saat anak sudah mencapai usia lebih dari dua tahun. Segera konsultasikan ke dokter untuk mendapat penanganan tepat.

 

Fraktur

Protecal Ladies, anak Anda termasuk anak yang sangat aktif? Anda wajib mengawasinya agar risiko cedera bisa diminimalisir. Pasalnya, cedera saat bermain juga bisa memicu terjadinya fraktur atau kondisi tulang yang retak. Bisa saja terjadi saat anak terjatuh atau terbentur benda keras.

Meski memang risiko penyakitnya tidak terlihat, Anda tetap perlu waspada agar tahu penanganan yang tepat. Beberapa orang tua biasanya memutuskan untuk memijat anak saat anak terjatuh atau cedera. Padahal, sebaiknya Anda memastikan terlebih dulu apakah memang benar tidak ada tulang yang patah. Caranya dengan rontgen di rumah sakit.

Masalahnya, jika tetap bersikukuh dipijat atau diurut, tulang anak yang awalnya mungkin baru retak, bisa-bisa malah patah. Akan lebih bahaya lagi jika ternyata anak mengalami patah tulang dan Anda tidak mengetahuinya. Umumnya, gejala patah tulang adalah terjadinya pembengkakan, nyeri ketika bagian tertentu ditekan atau digerakkan, hingga kulit di atas tulang patah yang terlihat kemerahan.

 

Tumbuh kembang anak bisa berjalan optimal apabila ia memiliki tulang yang kuat dan sehat. Mengetahui berbagai risiko penyakit tulang memungkinkan Anda untuk lebih waspada dalam menjaga anak. Sebagai langkah pencegahan, Anda juga bisa mengajak anak untuk mengkonsumsi Protecal Solid dengan kandungan vitamin C dan kalsium yang tentunya bagus untuk tumbuh kembang anak Anda.

fact
03/12/2018

Protecal Ladies pasti sudah tahu bahwa duduk terlalu lama tidak baik untuk kesehatan tubuh. Dilansir dari Kompas.com, organisasi kesehatan dunia (WHO) bahkan menyebutkan bahwa terlalu lama duduk menjadi penyebab kematian keempat setelah tekanan darah tinggi, merokok, dan gula darah tinggi. Pasalnya, saat duduk, aktivitas pembakaran kalori akan menurun. Hal inilah yang bisa berdampak kurang baik pada kesehatan Anda.

Lantas, apakah ini artinya Anda harus lebih sering berdiri? Nyatanya tidak juga, terlalu lama berdiri pun juga bisa berisiko pada kesehatan. Bagi yang profesi atau aktivitas sehari-harinya mengharuskan untuk berdiri dalam waktu lama, misalnya koki atau teller bank, Anda perlu waspada akan berbagai risiko.

 

Varises pada kaki

Saat berdiri, secara otomatis kaki akan menjadi tumpuan utama tubuh Anda. Jika dilakukan dalam waktu lama, darah akan berkumpul pada pembuluh darah di area kaki. Bayangkan apabila hal ini terjadi setiap hari. Pembuluh darah pada kaki kemungkinan akan melebar sehingga terjadilah varises kaki. Salah satu tanda utamanya adalah pembuluh darah yang terlihat menonjol dan bentuknya keriting. Biasanya, munculnya varises kaki ini kebanyakan terjadi di area paha bagian belakang.

 

Terjadi penguncian sendi

Tidak hanya pembuluh darah yang akan terkena risiko jika Protecal Ladies berdiri dalam waktu terlalu lama. Sendi juga akan merasakan dampaknya. Saat tubuh terus berdiri dalam waktu lama, akan terjadi tekanan yang kuat secara terus menerus di bagian sendi, terutama pada sendi panggul dan lutut.

Apabila terus dibiarkan, hal ini bisa menurunkan produksi pelumas sendi yang bertugas mempermudah gerakan sendi. Alhasil, terjadilah penguncian sendi sehingga Anda susah bergerak. Gejala penguncian sendi yang paling umum adalah terasa nyeri sendi dan nyeri panggul.

 

Risiko penyakit jantung

Seperti yang disebutkan sebelumnya, berdiri terlalu lama menyebabkan darah terkumpul pada pembuluh darah di area kaki. Di samping itu, saat darah akan mengalir lagi dari kaki ke jantung, alirannya akan mengalami gangguan akibat gravitasi. Risiko arteriosklerosis pun tak dapat dihindari, atau disebut pula dengan plak pada pembuluh darah jantung. Apabila plak ini lepas, aliran darah ke jantung pun akan mengalami gangguan sehingga rentan terjadi penyakit atau serangan jantung.

 

Kelelahan otot jangka panjang

Otot yang terasa lelah saat bekerja memang wajar terjadi. Namun, jika kondisi ini terjadi terus-menerus dan aktivitas Anda menuntut untuk berdiri lama, sebaiknya Anda waspada. Dilansir dari Beritagar.id, sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Human Factors menunjukkan bahwa berdiri terlalu lama memang bisa menyebabkan kelelahan otot jangka panjang.

Maria Gabriela Garcia, sang penulis, mengukur kelelahan otot dengan sistem rangsangan listrik yang menyebabkan otot berkedut. Garcia pun mengukur kekuatan kedutan otot. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika melakukan jeda reguler, responden merasa lelah dalam jangka panjang setelah melakukan simulasi lima jam kerja dengan berdiri.

 

Mulai sekarang, jangan sepelekan aktivitas berdiri dalam waktu lama, ya. Bukan berarti Anda harus berhenti bekerja atau beraktivitas. Cobalah kombinasikan aktivitas berdiri dengan duduk dan berjalan kaki agar sirkulasi darah tetap lancar dan kesehatan tubuh terjaga.

Selain itu, imbangi pula dengan nutrisi melalui konsumsi Protecal Solid yang kandungan vitamin C dan kalsiumnya mampu menjaga kesehatan tulang Anda. Protecal Solid aman dikonsumsi oleh ibu hamil dan anak-anak!

fact
27/11/2018

Apakah Anda sering duduk terlalu lama? Hal ini mungkin dirasakan oleh para pekerja yang menghabiskan waktu di depan meja dan komputer. Terlalu lama duduk ternyata memiliki dampak yang tidak dapat dianggap remeh. Salah satunya adalah sakit pinggang yang jika dibiarkan dapat menyebabkan cedera pada otot ligamen dan tulang belakang. Untuk mengatasinya, Anda dapat melakukan lima cara mudah berikut ini.

 

Ubah Posisi Duduk

Langkah pertama yang dapat Anda lakukan adalah mengubah posisi duduk. Hal ini bisa dilakukan setiap satu jam sekali. Selain itu Anda bisa melakukan gerakan kecil seperti berdiri, melemaskan otot badan dan peregangan. Untuk relaksasi sebaiknya dilakukan selama lima menit. Gerakan tersebut berguna untuk meregangkan kembali otot-otot pinggang yang kaku setelah Anda duduk lama.

Penting juga untuk memilih kursi yang tepat agar duduk semakin nyaman. Untuk itu, sesuaikan posisi kursi senyaman mungkin. Posisi yang tidak tepat dapat mengganggu tidak hanya masalah punggung saja tapi juga berdampak pada pinggang Anda.

 

Olahraga Teratur

Olahraga juga cukup ampuh mengurangi sakit pinggang karena terlalu lama duduk. Salah satu jenis olahraga yang dapat Anda lakukan di rumah antara lain yoga. Teknik dalam latihan yoga mampu melatih kelenturan dan kekuatan otot tubuh. Selain yoga Anda juga bisa melakukan gerakan pilates, gerakan ini menurut Journal of Orthopedic & Sports Physical Therapy mampu mengurangi sakit punggung bagian bawah.

Olahraga ringan lainnya adalah dengan berjalan-jalan selama 30-40 menit setiap hari dalam lima kali seminggu. Berenang juga mampu mengurangi sakit pinggang dan membentuk kekuatan otot bagian bawah. Lakukan secara rutin 1-2 kali dalam seminggu untuk hasil yang lebih baik.

 

Minum Air Putih

Cara mudah dan murah berikutnya mengurangi sakit pinggang adalah dengan perbanyak minum air putih. Maka dari itu sebaiknya minumlah air putih dengan jumlah yang cukup. Para ahli kesehatan menyarankan untuk mengkonsumsi air putih sebanyak dua liter setiap harinya. Atau jika diukur menggunakan gelas, maka sebaiknya minumlah air putih sebanyak 8-10 gelas sehari.

Apabila Anda dalam posisi duduk terlalu lama dan kurang minum air putih sesuai jumlah yang dianjurkan, bukan tidak mungkin sakit pinggang dapat bertambah parah. Selain itu, dapat menyebabkan penyakit lainnya seperti batu ginjal. Penyakit batu ginjal ini terjadi karena kandungan kalsium yang berlebihan.

 

Perhatikan Berat Badan dan Beban Punggung

Jangan sepelekan berat badan Anda, sebaiknya lakukan pengecekan secara teratur. Pertahankan berat badan dalam batas normal. Jika berat badan Anda melebihi batas akan membuat beban punggung semakin berat. Hal ini dikarenakan berat badan ini akan menjepit dan menekan saraf tepi yang keluar dari saraf utama dan tulang belakang.

Beban yang di punggung tidak hanya disebabkan oleh bertambahnya berat badan saja. Namun dapat terjadi ketika Anda mengangkat sesuatu yang terlalu berat. Apalagi jika dilakukan dalam posisi membungkuk. Inilah yang membuat otot punggung dan pinggang terasa terbebani.

 

Penuhi Asupan Nutrisi

Terakhir, sebagai pelengkap adalah penuhi asupan nutrisi untuk tulang terutama asupan kalsium. Karena kalsium diperlukan oleh tubuh untuk memperkuat struktur tulang.  Selain buah dan sayuran, asupan kalsium dalam tubuh makin maksimal dengan mengkonsumsi suplemen yang dibuat khusus untuk kesehatan tulang.

 

Jadi, mulai sekarang Protecal Ladies jaga kondisi dan kesehatan tulang dengan berolahraga dan asupan nutrisi yang cukup.

tips
23/11/2018
The Latest Article

Protecal Ladies, penyakit tulang osteoporosis memang bisa dialami oleh siapa saja. Namun, beberapa orang di usia lanjut memiliki risiko lebih tinggi dan lebih cepat mengalami gangguan kepadatan tulang ini dibandingkan dengan mereka yang masih muda. Umumnya, osteoporosis ditandai dengan penurunan kualitas jaringan tulang yang menyebabkan berkurangnya massa tulang sehingga memicu tulang rapuh.

Selain diakibatkan karena kurang asupan kalsium, osteoporosis juga bisa muncul akibat 6 kebiasaan buruk yang tidak Anda sadari berikut ini.

 

Makan makanan asin secara berlebihan

Siapa sangka jika asupan garam berpengaruh besar terhadap risiko penurunan kepadatan tulang? Menurut dr. Frederick Singer, spesialis tulang dari Providence Saint John’s Health Center, Amerika Serikat, saat mengkonsumsi makanan asin secara berlebihan, maka natrium dalam darah meningkat sehingga tubuh melepaskan lebih banyak kalsium melalui urine. Dengan begitu, kebutuhan kalsium tulang tidak dapat dipenuhi secara optimal dan memicu risiko osteoporosis.

 

Kurang beraktivitas di luar ruangan

Setiap harinya selama 8 – 9 jam Anda banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di dalam ruangan. Demikian pula ketika akhir pekan, Anda lebih memilih untuk beristirahat di rumah dibanding beraktivitas di luar ruangan. Padahal kebiasaan ini jika dibiarkan akan membuat tubuh kekurangan asupan vitamin D yang didapat dari sinar matahari. Perlu diketahui, vitamin D inilah yang membantu penyerapan kalsium dalam tulang sehingga wajib diperhatikan kadar pemenuhannya.

 

Diet protein

Belakangan tren diet protein kian populer terlebih bagi pria dan wanita yang ingin meningkatkan pembentukan massa otot. Sayangnya, diet protein justru akan membuat ginjal mengeluarkan lebih banyak kalsium melalui urine. Padahal kekurangan kalsium dalam tulang dapat mengakibatkan osteoporosis yang membuat tulang rapuh dan kehilangan kepadatannya.

 

Minum minuman bersoda dan beralkohol

Protecal ladies, minuman bersoda dan beralkohol jika dikonsumsi secara berlebihan akan menghambat penyerapan kalsium dalam tulang. Hal ini dikarenakan kandungan soda dan alkohol dapat mengurangi fungsi pankreas dan hati. Jika kondisi memburuk, maka minuman bersoda dan beralkohol juga mampu meningkatkan hormon kortisol dan menurunkan estrogen dan testosteron yang membuat tulang semakin rapuh.

 

Terlalu lama duduk di lantai

Orang yang menghabiskan waktu terlalu lama duduk di lantai ternyata berisiko tinggi terserang osteoporosis. Pasalnya, saat duduk di lantai sendi kaki sering kali tertekan dan menyebabkan beban tumpuan beralih pada tulang. Jika dilakukan dalam jangka panjang, maka tulang kaki menjadi lebih mudah kehilangan kepadatannya. Untuk itu, cobalah untuk duduk dengan posisi yang baik dan benar di atas kursi.

 

Merokok

Selain berbahaya untuk jantung dan paru-paru, rokok juga berdampak buruk bagi kesehatan tulang Anda. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh National Institute of Health Osteoporosis and Related Bone Diseases National Resource Center, perokok aktif memiliki kepadatan tulang jauh lebih rendah sehingga berisiko mengidap osteoporosis. Hal ini dipicu oleh radikal bebas yang dihasilkan oleh asap rokok yang meningkatkan produksi hormon kortisol di mana hormon ini justru melemahkan kepadatan tulang.

 

Untuk memenuhi asupan kalsium dalam tubuh, Anda bisa berinvestasi kalsium sejak dini dengan rutin mengkonsumsi Protecal Solid agar tulang lebih kuat kini dan nanti. Dikemas dalam wadah tube ataupun strip membuat Protecal Solid praktis dibawa bepergian ke mana saja dan kapan saja. Dengan begitu tak perlu lagi khawatir kekurangan asupan kalsium karena Protecal Solid aman dikonsumsi secara rutin.

tips
2018-12-07

Tumbuh kembang anak tidak hanya bisa diukur dari kecerdasan motoriknya, tetapi juga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah kondisi tulang. Sayangnya, hal ini cenderung diabaikan karena sifat penyakitnya yang bisa saja “tidak terlihat” jika dibandingkan dengan jenis penyakit lain seperti flu atau demam. Padahal ada sejumlah risiko penyakit tulang pada anak yang perlu Anda waspadai. Berikut penjelasannya.

 

Lordosis dan skoliosis

Risiko penyakit tulang lordosis dan skoliosis lebih rentan terjadi pada anak yang sering memanggul tas dengan beban terlalu berat. Lordosis adalah kondisi di mana tulang melengkung ke belakang, sedangkan scoliosis terjadi ketika tulang melengkung ke samping.

Di lansir dari era.id, penelitian yang dilakukan American Academy of Orthopedic menunjukkan bahwa anak-anak usia 11-13 tahun paling rentan mengalami gangguan tulang punggung. Idealnya, beban yang boleh dipikul seorang anak adalah 10%-15% dari total bobot tubuhnya. Misalnya, jika anak Anda memiliki bobot 35 kg, maka ia hanya boleh memikul beban sebesar 3,5-5,25 kg.

Saat anak memanggul tas punggung dengan beban terlalu berat, tubuh anak akan tertarik ke belakang. Demi menyeimbangkan hal tersebut, biasanya anak akan melengkungkan punggung atau membungkukkan badannya. Kondisi inilah yang bisa berpotensi mengganggu pertumbuhan tulang belakang hingga menimbulkan nyeri punggung, leher, atau bahu.

 

Kaki Bengkok

Kondisi kaki bengkok berbentuk O atau X sebetulnya merupakan hal yang wajar terjadi. Untuk kondisi kaki O, biasanya terjadi pada anak usia di bawah dua tahun. Hal ini normal karena merupakan salah satu proses dari perkembangan tulangnya. Memasuki usia delapan belas bulan, sudut lutut biasanya memuncak dan akan kembali ke bentuk normal secara bertahap seiring dengan pertumbuhan anak.

Sama seperti kaki O, kaki X juga merupakan kondisi yang biasanya dialami beberapa anak sebagai salah satu proses pertumbuhan. Seiring anak yang semakin besar, kondisi kakinya akan kembali normal dengan sendirinya. Anda perlu waspada apabila kondisi kaki O atau kaki X ini tidak berubah saat anak sudah mencapai usia lebih dari dua tahun. Segera konsultasikan ke dokter untuk mendapat penanganan tepat.

 

Fraktur

Protecal Ladies, anak Anda termasuk anak yang sangat aktif? Anda wajib mengawasinya agar risiko cedera bisa diminimalisir. Pasalnya, cedera saat bermain juga bisa memicu terjadinya fraktur atau kondisi tulang yang retak. Bisa saja terjadi saat anak terjatuh atau terbentur benda keras.

Meski memang risiko penyakitnya tidak terlihat, Anda tetap perlu waspada agar tahu penanganan yang tepat. Beberapa orang tua biasanya memutuskan untuk memijat anak saat anak terjatuh atau cedera. Padahal, sebaiknya Anda memastikan terlebih dulu apakah memang benar tidak ada tulang yang patah. Caranya dengan rontgen di rumah sakit.

Masalahnya, jika tetap bersikukuh dipijat atau diurut, tulang anak yang awalnya mungkin baru retak, bisa-bisa malah patah. Akan lebih bahaya lagi jika ternyata anak mengalami patah tulang dan Anda tidak mengetahuinya. Umumnya, gejala patah tulang adalah terjadinya pembengkakan, nyeri ketika bagian tertentu ditekan atau digerakkan, hingga kulit di atas tulang patah yang terlihat kemerahan.

 

Tumbuh kembang anak bisa berjalan optimal apabila ia memiliki tulang yang kuat dan sehat. Mengetahui berbagai risiko penyakit tulang memungkinkan Anda untuk lebih waspada dalam menjaga anak. Sebagai langkah pencegahan, Anda juga bisa mengajak anak untuk mengkonsumsi Protecal Solid dengan kandungan vitamin C dan kalsium yang tentunya bagus untuk tumbuh kembang anak Anda.

fact
2018-12-03

Protecal Ladies pasti sudah tahu bahwa duduk terlalu lama tidak baik untuk kesehatan tubuh. Dilansir dari Kompas.com, organisasi kesehatan dunia (WHO) bahkan menyebutkan bahwa terlalu lama duduk menjadi penyebab kematian keempat setelah tekanan darah tinggi, merokok, dan gula darah tinggi. Pasalnya, saat duduk, aktivitas pembakaran kalori akan menurun. Hal inilah yang bisa berdampak kurang baik pada kesehatan Anda.

Lantas, apakah ini artinya Anda harus lebih sering berdiri? Nyatanya tidak juga, terlalu lama berdiri pun juga bisa berisiko pada kesehatan. Bagi yang profesi atau aktivitas sehari-harinya mengharuskan untuk berdiri dalam waktu lama, misalnya koki atau teller bank, Anda perlu waspada akan berbagai risiko.

 

Varises pada kaki

Saat berdiri, secara otomatis kaki akan menjadi tumpuan utama tubuh Anda. Jika dilakukan dalam waktu lama, darah akan berkumpul pada pembuluh darah di area kaki. Bayangkan apabila hal ini terjadi setiap hari. Pembuluh darah pada kaki kemungkinan akan melebar sehingga terjadilah varises kaki. Salah satu tanda utamanya adalah pembuluh darah yang terlihat menonjol dan bentuknya keriting. Biasanya, munculnya varises kaki ini kebanyakan terjadi di area paha bagian belakang.

 

Terjadi penguncian sendi

Tidak hanya pembuluh darah yang akan terkena risiko jika Protecal Ladies berdiri dalam waktu terlalu lama. Sendi juga akan merasakan dampaknya. Saat tubuh terus berdiri dalam waktu lama, akan terjadi tekanan yang kuat secara terus menerus di bagian sendi, terutama pada sendi panggul dan lutut.

Apabila terus dibiarkan, hal ini bisa menurunkan produksi pelumas sendi yang bertugas mempermudah gerakan sendi. Alhasil, terjadilah penguncian sendi sehingga Anda susah bergerak. Gejala penguncian sendi yang paling umum adalah terasa nyeri sendi dan nyeri panggul.

 

Risiko penyakit jantung

Seperti yang disebutkan sebelumnya, berdiri terlalu lama menyebabkan darah terkumpul pada pembuluh darah di area kaki. Di samping itu, saat darah akan mengalir lagi dari kaki ke jantung, alirannya akan mengalami gangguan akibat gravitasi. Risiko arteriosklerosis pun tak dapat dihindari, atau disebut pula dengan plak pada pembuluh darah jantung. Apabila plak ini lepas, aliran darah ke jantung pun akan mengalami gangguan sehingga rentan terjadi penyakit atau serangan jantung.

 

Kelelahan otot jangka panjang

Otot yang terasa lelah saat bekerja memang wajar terjadi. Namun, jika kondisi ini terjadi terus-menerus dan aktivitas Anda menuntut untuk berdiri lama, sebaiknya Anda waspada. Dilansir dari Beritagar.id, sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Human Factors menunjukkan bahwa berdiri terlalu lama memang bisa menyebabkan kelelahan otot jangka panjang.

Maria Gabriela Garcia, sang penulis, mengukur kelelahan otot dengan sistem rangsangan listrik yang menyebabkan otot berkedut. Garcia pun mengukur kekuatan kedutan otot. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika melakukan jeda reguler, responden merasa lelah dalam jangka panjang setelah melakukan simulasi lima jam kerja dengan berdiri.

 

Mulai sekarang, jangan sepelekan aktivitas berdiri dalam waktu lama, ya. Bukan berarti Anda harus berhenti bekerja atau beraktivitas. Cobalah kombinasikan aktivitas berdiri dengan duduk dan berjalan kaki agar sirkulasi darah tetap lancar dan kesehatan tubuh terjaga.

Selain itu, imbangi pula dengan nutrisi melalui konsumsi Protecal Solid yang kandungan vitamin C dan kalsiumnya mampu menjaga kesehatan tulang Anda. Protecal Solid aman dikonsumsi oleh ibu hamil dan anak-anak!

fact
2018-11-27