Kenali Risiko Penyakit Tulang pada Anak

Tumbuh kembang anak tidak hanya bisa diukur dari kecerdasan motoriknya, tetapi juga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah kondisi tulang. Sayangnya, hal ini cenderung diabaikan karena sifat penyakitnya yang bisa saja “tidak terlihat” jika dibandingkan dengan jenis penyakit lain seperti flu atau demam. Padahal ada sejumlah risiko penyakit tulang pada anak yang perlu Anda waspadai. Berikut penjelasannya.

 

Lordosis dan skoliosis

Risiko penyakit tulang lordosis dan skoliosis lebih rentan terjadi pada anak yang sering memanggul tas dengan beban terlalu berat. Lordosis adalah kondisi di mana tulang melengkung ke belakang, sedangkan scoliosis terjadi ketika tulang melengkung ke samping.

Di lansir dari era.id, penelitian yang dilakukan American Academy of Orthopedic menunjukkan bahwa anak-anak usia 11-13 tahun paling rentan mengalami gangguan tulang punggung. Idealnya, beban yang boleh dipikul seorang anak adalah 10%-15% dari total bobot tubuhnya. Misalnya, jika anak Anda memiliki bobot 35 kg, maka ia hanya boleh memikul beban sebesar 3,5-5,25 kg.

Saat anak memanggul tas punggung dengan beban terlalu berat, tubuh anak akan tertarik ke belakang. Demi menyeimbangkan hal tersebut, biasanya anak akan melengkungkan punggung atau membungkukkan badannya. Kondisi inilah yang bisa berpotensi mengganggu pertumbuhan tulang belakang hingga menimbulkan nyeri punggung, leher, atau bahu.

 

Kaki Bengkok

Kondisi kaki bengkok berbentuk O atau X sebetulnya merupakan hal yang wajar terjadi. Untuk kondisi kaki O, biasanya terjadi pada anak usia di bawah dua tahun. Hal ini normal karena merupakan salah satu proses dari perkembangan tulangnya. Memasuki usia delapan belas bulan, sudut lutut biasanya memuncak dan akan kembali ke bentuk normal secara bertahap seiring dengan pertumbuhan anak.

Sama seperti kaki O, kaki X juga merupakan kondisi yang biasanya dialami beberapa anak sebagai salah satu proses pertumbuhan. Seiring anak yang semakin besar, kondisi kakinya akan kembali normal dengan sendirinya. Anda perlu waspada apabila kondisi kaki O atau kaki X ini tidak berubah saat anak sudah mencapai usia lebih dari dua tahun. Segera konsultasikan ke dokter untuk mendapat penanganan tepat.

 

Fraktur

Protecal Ladies, anak Anda termasuk anak yang sangat aktif? Anda wajib mengawasinya agar risiko cedera bisa diminimalisir. Pasalnya, cedera saat bermain juga bisa memicu terjadinya fraktur atau kondisi tulang yang retak. Bisa saja terjadi saat anak terjatuh atau terbentur benda keras.

Meski memang risiko penyakitnya tidak terlihat, Anda tetap perlu waspada agar tahu penanganan yang tepat. Beberapa orang tua biasanya memutuskan untuk memijat anak saat anak terjatuh atau cedera. Padahal, sebaiknya Anda memastikan terlebih dulu apakah memang benar tidak ada tulang yang patah. Caranya dengan rontgen di rumah sakit.

Masalahnya, jika tetap bersikukuh dipijat atau diurut, tulang anak yang awalnya mungkin baru retak, bisa-bisa malah patah. Akan lebih bahaya lagi jika ternyata anak mengalami patah tulang dan Anda tidak mengetahuinya. Umumnya, gejala patah tulang adalah terjadinya pembengkakan, nyeri ketika bagian tertentu ditekan atau digerakkan, hingga kulit di atas tulang patah yang terlihat kemerahan.

 

Tumbuh kembang anak bisa berjalan optimal apabila ia memiliki tulang yang kuat dan sehat. Mengetahui berbagai risiko penyakit tulang memungkinkan Anda untuk lebih waspada dalam menjaga anak. Sebagai langkah pencegahan, Anda juga bisa mengajak anak untuk mengkonsumsi Protecal Solid dengan kandungan vitamin C dan kalsium yang tentunya bagus untuk tumbuh kembang anak Anda.